INDUSTRI PENGOLAHAN KELAPA BERBASIS DESA SEBAGAI PENGGERAK EKONOMI MASYARAKAT DESA

 

Pupun Purwana

Pupun Purwana

Pupun Purwana, Ketua Umum Asosiasi Badan Usaha Milik Desa Se Indonesia

bumdesindo.com – 24 April 2016, Jakarta

Pohon kelapa disebut pohon kehidupan, mengingat manfaatnya begitu besar bagi kehidupan manusia. Mulai dari akar hingga daunya telah banyak dimanfaatkan kebutuhan sehari-hari, terutama buahnya.

Populasi kelapa di Indonesia sekitar 3,8 juta hektar, atau 40% dari populasi tanaman kelapa dunia, merupakan potensi yang luar biasa jika dikelola baik. 78,9 persen ekspor kelapa dunia, didominasi oleh Indonesia dan Pilipina, namun nilai ekspor Indonesia (USD 1,3 M) masih tertinggal oleh Pilipina (USD 1,5 M) yang jumlah populasi kelapanya jauh dibawah populasi kelapa Indonesia (APCC, 2014).

Pengolahan kelapa dan produk turunan kelapa ragam dan jenisnya masih sedikit dikembangkan oleh masyarakat, terutama petani di desa-desa, sementara di Pilipina telah dikembangkan lebih dari 100 jenis produk turunan kelapa.

Dengan alokasi dana desa (ADD) yang dianggarkan oleh pemerintah, semestinya dapat dikembangkan industri rumah tangga pengolahan kelapa, bahkan bisa dikembangkan menjadi sentra-sentra pengolahan kelapa, agar manfaat kelapa dapat menjadi mata pencaharian utama, bukan lagi menjadi mata pencaharian sampingan, sebagaimana penulis temukan di banyak desa di Indonesia.

Badan Usaha Milik Desa (Bum Desa), sebagai motor penggerak dari gerakan pembangunan ekonomi masyarakat desa semestinya dapat berperan dalam menumbuhkan industri pengolahan kelapa sekala desa. Bum Desa dapat berperan sebagai institusi penampung dari produk kelapa dan produk turunan kelapa untuk kemudian dipasarkan kepada konsumen.  Selain sebagai penampung produk dari masyarakat desa, Bum Desa juga bisa berperan sebagai lembaga penjamin pasar dan sebagai penyedia modal bagi industri kecil rumah tangga, melalui fungsi sebagai lembaga keuangan mikro.

Jenis-Jenis Olahan Kelapa

Jenis-jenis pengolahan kelapa dan produk turunan kelapa yang sudah banyak dikenal luas oleh masyarakat diantaranya :

Pertama, Pengolahan minyak kelapa.

Setidaknya pengolahan minyak kelapa ada tiga cara, yaitu melalui kopra yang dikenal dengan system basah, melalui pengapian yang secara turun temurun dikenal dengan minyak kelentik dan melalui permentasi serta terahir dikenal dengan system pancingan.

Kedua, temputung kelapa.

Sebagian besar tempurung kelapa masih banyak digunakan sebagai arang yang banyak digunakan sebagai alat untuk memasak, sementara jika dipelajari lebih jauh arang dari tempurung kelapa ini kegunaanya sangat banyak sekali teriutama untuk kebutuhan industry, seperti industri obat nyamuk, sebagai pemanas bertekanan tinggi dan alat penyaring jika telah diaktivasi menjadi carbon active dan masih banyak lagi.

Ketiga, asap cair atau dikenal juga sebagai biosel.

Asap cair (liquid smock) merupakan produk sampingan yang dihasilkan dari pembuatan arang tempurung kelapa dengan menampung asapnya dengan pendinginan. Asap cair dapat digunakan sebagai bahan pengawet makanan untuk industri baso, tahu dan berbagai makanan lain. Selain itu dapat juga digunakan untuk bahan pengawet kayu, untuk asap cair yang lebih pekat.

Keempat, selain dibuat arang dan diambil asapnya, tempurung kelapa juga dapat dibuat berbagai kerajinan dengan berbagai bentuk dan jenis.

Produk kerajinan dari tempurung kelapa ini sudah menjadi ekspor andalan produk kerajinan, seperti mangkok cantik yang dikirm ke berbaqgai negara seperti china, jepang, korea, eropa dan timur tengah bahkan amerika. Selain itu permintaan dalam negeri terutama dari perkebunan karet banyak sekali digunakan untuk menampung getah karet saat melakukan penyadapan, bahkan tempurung kelapa ini banyak diburu untuk dibuat coco pellet sebagai pengganti batu bara bercalori tinggi di atas 6000 calori, ini bisa digunakan untuk pembakaran tinggi dan untuk kebutuhan power plan.

Kelima, virgin coconut oil (VCO) atau di Malaysia disebut juga minyak kelapa dara.

VCO ini merupakan produk dari kelapa yang bermanfaat sebagai anti virus, anti bakteri, anti jamur, anti oksidan, anti protozoa, karena dapat mengatasi berbagai penyakit, seperti kolesterol, diabetes, hepatitis, kelelahan, asma, kanker, jantung, darah tinggi dan berbagai penyakit akut lainnya.

Keenam, air kelapa, pemanfaatan air kelapa.

Air kelapa banyak dikenal luas diproduksi sebagai bahan baku pembuatan nata de coco. Selain itu sekarang sudah dibuat minuman berskala industri yang dikenal dengan hydro coco. Untruk industri rumah tangga sebenarnya bisa dibuat minuman segar berenergi dengan cara mengolahnya dicampur dengan agar-agar, selain menyegarkan juga menyehatkan.

Kesimpulan

Pengolahan kelapa dan produk turunan kelapa seperti diulas di atas, merupakan bagian kecil dari banyak produk turunan kelapa, karena seperti dikatakan di atas bahwa di Pilipina sudah mencapai 100 jenis dan di Indonesia juga sebenarnya sudah sekitar 35 produk sudah bisa diproduksi.

Pertanyaannya, kenapa Pilipina lebih banyak produknya dan lebih banyak nilai ekspornya ketimbang Indonesia yang dari segi jumlah populasinya jauh lebih banyak?

Pertanyaan ini kedengarannya ironis sekali, karena ternyata Indonesia lebih banyak mengekspor kelapa gelondongan ketimbang Pilipina, yaitu sebanyak 159.503 berbanding 2.316 butir pada tahun 2014 (APCC, 2014). Dan beberapa jenis yang yang Pilipina ekspor Indonesia tidak seperti air kelapa, minyak cuka, produk kimia, bubuk santan.

Semoga dengan perbandingan seperti ini dapat menjadi pemicu untuk melakukan inovasi pengolahan dan produk turunan kelapa dengan memanfaatkan sumberdaya lokal yang melimpah dan penguatan kelembagaan Bum Desa sebagai penggerak pembangunan ekonomi masyarakat desa.

Semoga..

(PP@Bumdesindo)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *